KAJIAN PERBANDINGAN PUISI “KARAWANG BEKASI” KARYA CHAIRILANWAR DAN PUISI “THE YOUNG SOLDIERS” KARYA ARCHIBALD MACLEISH
Oleh
PENDAHULUAN
Sastra bandingan adalah kajian
secara sistematik sastra-sastra antar negara, maksudnya karya sastra yang
diperbandingkan haruslah karya sastra yang sama genre dan tipenya. Tujuan
sastra bandingan adalah membandingkan dua karya sastra yang dianggap serupa
untuk mengetahui isi masing-masing karya sastra sehingga dapat diketahui apakah
karya sastra yang satu dengan lainnya mempunyai hubungan atau tidak.
Dalam hal ini kedua karya sastra ini
dibandingkan karena Chairil Anwar adalah tokoh yang unik dalam sejarah sastra
di Indonesia. Ia dianggap pelopor suatu pembaharuan sastra sekaligus dituduh
penyair yang suka mencuri karya sastra asing. Misalnya kita amati dalam
puisinya yang berjudul Krawang-Bekasi. Oleh beberapa pengamat sastra,
puisi itu dianggap plagiat dari puisi Archibald Macleish yang berjudul The
Young Soldiers karena tidak mencantumkan nama Archibald Macleish.
PEMBAHASAN
Analisis Stara Norma Puisi Karawang
Bekasi dan The Young Souldiers
Menurut Roman Ingarden, lapis-lapis
norma dalam karya sastra adalah lapis bunyi, lapis makna, lapis objek, lapis
dunia yang dilihat dari sudut pandang tertentu, dan lapis metafisika. Berikut
hasil analisis kedua puisi menurut strata norma yang di sampaikan oleh Roman
Ingarden.
Perbandingan Puisi Karawang-Bekasi
dan The Young Soldiers
Puisi Karawang-Bekasi
merupakan puisi yang dibuat pada tahun 1946 oleh Chairi Anwar setelah ia
mendapatkan inspirasi dari kejadian di antara kota Karawang dan Bekasi. Puisi
ini menceritakan perjuangan para pejuang bangsa dalam menghadapi musuh dan menjaga
tokoh negara. Mereka gugur dalam usaha menciptakan perdamaian dan upaya
memperoleh kemerdekaan.
Pada puisi The Young Dead
Soldiers karya Archibald mendapatkan inspirasi dari kejadian perang yang
ada di dunia. Ia menggambarkan keinginan para prajurit untuk dikenang dan
keinginan lain seperti mendapatkan perdamian, kejayaan seusai perang, dan
perang segera berakhir. Untuk menciptakan suasana yang berat, pengarang
menggunakan pengulang pada setiap bait menggunakan kalimat They say.
Pengulangan ini digunakan untuk memperlihatkan bahwa para prajurit ingin
menyampaikan harapan-harapan mereka yang tertunda dan tidak dapat disampaikan
langsung kepada pembaca.
PENUTUP
Berdasarkan uraian bentuk, puisi
Chairil sedikit berbeda dengan puisi Archibald dalam penciptaan jumlah baris
dan bait. Berdasarkan penggunaan diksi dan ungkapan kalimat, puisi Chairil
hampir memiliki diksi, ungkapan yang sama. Pemilihan kata juga sama dan inti
maknanya juga sama. Berdasarkan isi, imajinasi, motif, tema, puisi Chairil memiliki
kesamaan dengan puisi Archibald yaitu menggambarkan perjuangan dengan tema yang
sama pula.
Berdasarkan masyarakat, lingkungan;
masyarakat yang ada dalam penciptaan puisi Chairil sedikit berbeda dengan
Archibal. Dalam puisi chairil menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia
dengan lingkungan yang pada zaman dahulu masih sangat alami, sederhana dan
masalah perjuangan melawan penjajah. Sedangkan dalam puisi Archibald dalam
masyarakat negara-negara yang maju dengan segala kekuasaan yang mendorong
lingkungan untuk tercipta perang dunia kedua.
Dengan demikian puisi Krawang-Bekasi
karya Chairil Anwar tidak termasuk plagiat hanya saja diilhami atau mendapat
pengaruh dari puisi The Young Dead Soldiers karya Archibald Macleish.
Puisi Chairil terikat oleh sejarah yang tidak bisa dengan mudah diterima di
mana dan kapan saja. Nada yang tersirat dalam puisi Chairil pun berbeda ia
mengobarkan semangat perjuangan, sedangkan puisi Archibald memimpin perdamaian.
Proses kreatif yang dilakukan Chairil
Anwar inimerupakan contoh kasus satu saja dari proses pengaruh asing dalam
kesusastraan Indonesia yang telah berlangsung sejak nenek moyang kita menyadur Mahabharata.
KARAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara
Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “merdeka” dan
angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi
mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan berdegap
hati?
Kami bicara padamu dalam hening
dimalam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding
yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang
diliput debu.
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba
apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum
apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa
memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai
tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk
kemerdekaan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi
bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening
dimalam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding
yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah
terus digaris batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliput
debu
Beribu kami terbaring antara
Krawang-Bekasi
Chairil Anwar 1946
THE YOUNG DEAD SOLDIERS
The young dead soldiers do not
speak.
Nevertheless they are heard in the
still houses.
(Who has not heard them ?)
They have a silence that speaks for
them at night
And when the cloc counts.
They say,
We were young. We have died.
Remember us.
They say,
We have done what we could
But until it is finished it is not
done.
They say,
We have given our lives
But until it is finished no onecan
know what our lives gave.
They say,
Our deaths are not ours,
They are yours,
They will mean what you make them.
They say,
Whether our lives and our deaths
were for peace and a new hope
Or for nothing
We cannot say, it is you who must
say this.
They say,
We leave you our deaths,
Give them their meaning,
Give them an end to the war and
atrue peace,
Give them a victory that ends the
war and a peace afterwards,
Give them their meaning,
We were young, they say,
We have died.
Remember us.
Archibald Macleish 1945
Terjemahan :
PRAJURIT (YANG) MATI MUDA
Prajurit (yang) mati muda tak dapat
bicara.
Tetapi mereka didengar dirumah-rumah
sunyi.
(siapa tidak mendengar mereka?)
Mereka dalam diam berbicara padamu
di malam hari.
Dan ketika jam dinding berdetak.
Mereka berkata,
Kami (masih) muda. Kami (telah)
mati. Ingatlah kami.
Mereka berkata,
Kami telah bekerja apa yang kami
dapat
Tetapi sampai selesai (kerja) belum
apa-apa.
Mereka berkata,
Kami htelah memberikan jiwa kami
Tetapi sampai selesai tak seorangpun
tahu pengorbanan kami.
Mereka berkata, kematian kami bukan
milik kami,
(kematian) itu milikmu,
(kematian) itu berarti bila engkau
(memberi) arti.
Mereka berkata,
Meskipun jiwa dan kematian kami
untuk perdamaian dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tak dapat bicara. Engkau yang
harus berbicara tentang ini
Mereka berkata,
Kami telah mati meninggalkan engkau,
Berilah mereka arti/nilai mereka,
Berilah mereka suatu akhir perang
dan suatu perdamaian sungguh
Berilah mereka kejayaan seusai
perang dan perdamaian abadi,
Berilah mereka nilainya.
Kami (masih) muda, mereka berkata,
Kami telah mati.
Ingatlah kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar